Lingkar Berita Pendidikan Indonesia

Akankah Kelaparan, Menjauhkan Dari Sikap Murah Hati?

Sejak era Thomas Huxley dan Peter Kropotkin, telah terjadi tarik ulur pada teori evolusioner antara yang memberi penekanan kepada kompetisi dan yang satunya kepada kerjasama. Masih menjadi perdebatan, perihal mana di antara keduanya yang paling dipraktikkan oleh spesies manusia.

Ketika sumber daya menjadi sangat langka pada suatu masyarakat, maka persaingan akan menjadi begitu menonjol. Namun seperti studi yang telah dilakukan pada suku "Ik" dan "Maasai", dapat disebut sebagai proses adaptasi yang asli dan paling sukses bagi spesies manusia. "Membantu mereka yang membutuhkan, sehingga mereka juga dapat melakukan hal yang sama untuk kita pada suatu hari nanti!"

Itupun juga bukan penemuan terbaru, yang ternyata telah dilakukan oleh antropolog bernama E. E. Evans Pritchard yang telah menangkap gagasan tersebut lebih dari 80 tahun yang lalu. Ia berujar bahwa,"It is scarcity not sufficiency that makes people generous, since everybody is thereby insured against hunger.”

Hubungan antara Kelangkaan dan Keegoisan

Hasil penelitian terbaru dari The Human Generosity Project menunjukkan bahwa perilaku, tidak serta merta dapat disamakan dengan budaya. Penelitian tersebut menemukan bahwa suku "Ik", sampai dengan hari ini tetap hidup dalam kondisi kelangkaan sumber daya. Namun ketika mengalami masa-masa sulit, ternyata masih ditemukan banyak aktivitas berbagi. Mereka ditemukan masih bersikap kooperatif. Sama halnya, dengan masyarakat dalam skala kecil lainnya. 

Ketika mengalami masa-masa sulit, kepemilikan jaring pengaman, akan sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup mereka. Salah satu alasan penting mengapa mau memberi kepada mereka yang membutuhkan, bahkan dengan tanpa mengharapkan imbalan, adalah bahwa kemurahan hati diyakini dapat berkontribusi pada jaring pengaman sosial. Hal ini dilakukan melalui pengumpulan resiko. Dengan menjaga mereka yang sedang membutuhkan, akan membuat mereka bersedia untuk membantu kita ketika nanti berbalik berposisi menjadi pihak yang membutuhkan.

Berbagi makanan, adalah salah satu bentuk adaptasi terpenting bagi spesies manusia. Beberapa suku diketahui menggunakan sebuah hadiah kecil, yang sebenarnya tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Namun dapat digunakan untuk membangun dan memelihara kemitraan. 

Menurut seorang antropolog bernama Polly Wiessner, hadiah semacam itu berfungsi untuk membangun hubungan untuk saling membantu. Ketika suatu suku mengalami kekurangan makanan atau air, dan bahkan pusat berbagi makanan juga tidak lagi bisa mencukupi, maka sebagai cara untuk menghadapi resiko, adalah dengan meminta bantuan kepada mitra mereka. Meski berada di lokasi yang jauh, namun mitra tersebut diharapkan memiliki nasib lebih baik.

Kontroversi Temuan Turnbull

Karya etnografi menarik, telah dideskripsikan oleh Colin Turnbull pada tahun 1972. Karya itu diberi judul The Mountain People, yang mendeskripsikan tentang suku Ik, yang termarjinalkan di Afrika. Mereka mencari nafkah di seputar pegunungan kecil di kawasan Uganda Utara. 

Yang menarik, Turnbull mengisahkan suku Ik dengan sebutan “the loveless people” hingga menggambarkan mereka sebagai suku yang “unfriendly, uncharitable, inhospitable and generally mean as any people can be!” Ia menyimpulkan, bahwa itu semua terjadi akibat adanya adaptasi budaya terhadap kelangkaan pangan yang begitu kronis.

Bahkan Turnbull juga percaya bahwa wanita suku Ik, hanya memiliki sedikit kasih sayang untuk anak-anaknya. Menurutnya, membesarkan anak-anak adalah beban. Perilaku rakus dan egois, kemudian disajikan sebagai ilustrasi tentang suku Ik, yang tengah mengembangkan budaya individual yang ekstrem, akibat kesulitan dalam menghadapi kelangkaan pangan.

Tentu saja ini berbeda dengan temuan dari The Human Generosity Project baru-baru ini, yang menyatakan bahwa suku Ik, bahkan justru memiliki etika berbagi yang kuat. Bahkan ada pepatah umum di sana yang menyatakan "tomora marang" yang artinya, adalah baik jika bisa berbagi dengan yang lain. 

Berbagi adalah hal yang biasa di sana. Bahkan jika ada warga Ik yang lapar dan kemudian bertemu dengan tetangga atau teman yang sedang makan, maka tidak dianggap sebagai sebuah pelanggaran sosial bagi orang yang lapar, untuk sekadar mengambil sebagian dari makanan milik tetangganya. 

Selain itu, banyak orang Ik percaya pada roh Bumi yang disebut "kijawika" yang dianggap tengah memantau perilaku orang, dan akan memberi penghargaan kepada mereka yang murah hati dan menghukum mereka yang egois.

Perilaku Lapar dan Keruntuhan Hubungan Sosial

Nah, lantas apa yang membuat Turnbull (1972) menemukan banyak keegoisan pada suku Ik di era pertengahan tahun 1960-an? Ternyata pada masa itu, suku Ik tengah mengalami kekeringan yang sangat parah, hingga menyebabkan kelaparan. Situasi itu diperparah oleh kurangnya akses terhadap tempat berburu yang ternyata telah dijadikan taman nasional. 

Atribusi perilaku yang diduga egois oleh Turnbull, disebut sebagai hasil dari budaya. Padahal sebenarnya, juga perlu dipahami bahwa suku Ik kala itu, sedang mengalami betapa beratnya menjalani kelaparan. Ketika mereka dalam kondisi kelaparan, maka perilaku mereka memang akan dapat berubah. Namun perubahan tersebut, sebenarnya tidak disebabkan oleh suatu ciri budaya apapun yang ada di sana.

Hal serupa juga pernah terjadi di Maasai, pada akhir abad ke-19. Menurut seorang sejarawan bernama Richard Waller, periode yang dijalani suku Maasai kala itu disebut sebagai "emutai" atau jaman pemusnahan.

Terjadi kombinasi antara kekeringan dan epidemi yang menyebabkan kelaparan, peperangan dan rusaknya hubungan sosial. Namun seperti halnya terjadi pada suku Ik, ketika kondisi mulai membaik, maka masyarakat Maasai pun pulih kembali. Hal lain, cara untuk menghadapi resiko juga akan dapat membuat mereka mampu bertahan.

Mereka tidak hanya bergantung pada lingkungan fisik, namun juga pada bagaimana mereka bisa berinteraksi dengannya. Semakin besar kelompok yang mengikuti keberhasilan sebuah strategi manajemen resiko, maka hati mereka juga akan kian murah. 

Misalnya, suku Maasai dan penggembala di seputar Afrika Timur, akan mengurung hewan ternak mereka di malam hari untuk menghindari dari bahaya hewan pemangsa. Ada juga yang melakukan retensi resiko dengan cara melakukan penyimpanan makanan atau memelihara hewan ternak dalam jumlah yang cukup besar. Hal ini ditujukan, untuk dapat menghindari kerugian yang sangat besar, atau kerugian yang lebih parah. 

Apa yang terjadi pada suku Ik, sebenarnya meliputi peringatan keras dan insentif yang mendukung kemurahan hati. Jadi, budaya di sini, bukanlah satu-satunya hal yang membawa pengaruh terhadap perilaku. 

Ketika orang kelaparan, mereka mungkin dapat membuang budaya murah hatinya dalam konteks putus asa untuk dapat tetap bertahan hidup. Namun ketika kesulitan terjadi pada waktu yang berbeda dan di tempat yang berbeda, maka orang yang lebih beruntung sering kali tetap akan membantu mereka yang membutuhkan. Jadi dalam hal ini, kelangkaan yang ekstrim, konstan, dan meluas, memang akan dapat menyebabkan hadirnya keegoisan. Kelangkaan sumber daya yang sporadis, tak terduga,  dan tidak merata, juga akan dapat memberi dampak yang berbeda.  

Kemurahan Hati, Pengumpulan Resiko, Asuransi Diri, dan Pasar Global

Sebelumnya, pengumpulan resiko dan tradisi berbagi dipraktikkan sebagai tempat berbagi makanan yang digunakan oleh pemburu. Sebagai contoh pemburu di Afrika tengah, mempraktikkan cara berbagi makanan yang sama dengan pemburu di gurun Kalahari. Mereka memiliki tempat sentral yang telah memiliki reputasi di antara mereka, untuk dapat saling berbagi makanan.

Para pemburu, biasanya memiliki tradisi yang lebih kuat jika dibandingkan dengan mereka yang hidup dari pertanian. Para petani, cenderung melebar pada aktivitas pertukaran dan melakukan penyimpanan makanan untuk digunakan secara eksklusif di rumah secara individual.

Dalam perjalannya, uang telah menjadi bentuk kekayaan yang dapat lebih mudah disimpan, dan digunakan untuk bergabung dengan pasar yang lebih global. Kemudian hal tersebut menjadi semacam asuransi diri, yang juga mengurangi pengumpulan resiko bersama pihak lain.

Pasar global telah meningkatkan tindak asuransi diri, sehingga kemudian mengurangi pengumpulan resiko bersama pihak lain. Karenanya, kemurahan hati menjadi berkurang, seiring dengan peningkatan jumlah kekayaan. Ketika pengumpulan resiko menurun, maka hubungan antara patron-klien akan menjadi lebih umum. Hal ini disebabkan, oleh lahirnya beberapa rumah tangga yang berhasil menjadi kaya, sementara yang lain tetap dalam kondisi miskin.

Individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi, di sisi lain, dapat menggunakan kekayaan mereka untuk melindungi diri dari resiko. Mereka menjadi kurang bergantung pada jaringan timbal balik. Oleh karena itu, perilaku prososial dari mereka, juga mungkin akan lebih dimotivasi oleh keinginan untuk meningkatkan status sosial mereka. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tinggal di lokasi dengan tingkat ketimpangan ekonomi yang tinggi, akan mengurangi kemurahan hati dari individu yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi.

Menurut ekonom Belanda, Johan Graafland dan Bjorn Lous, tingkat ketimpangan ekonomi yang tinggi akan dapat mengganggu kapasitas individu dengan status sosial ekonomi yang lebih rendah, untuk dapat membangun dan memelihara jaringan saling membantu, dengan merusak rasa kepercayaan mereka pada orang lain.

Meningkatnya tingkat ketimpangan ekonomi dalam dunia modern, juga semakin memperumit situasi. Orang kaya, memiliki kemampuan yang lebih besar untuk bermurah hati daripada mereka yang miskin. Orang kaya juga memiliki lebih banyak waktu untuk dapat mengasuransikan dirinya, sehingga mampu melepaskan diri dari hubungan untuk saling berbagi. 

Namun kelas sosial ekonomi dalam masyarakat industri, sepertinya tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan para pemburu, peramu, atau penggembala yang mungkin hidup di lingkungan yang langka sumber daya, terhadap suku lain yang hidup melimpah di pinggiran masyarakat kota. Pola kekerabatan, ritual, dan ciri budaya gotong royong lainnya, masih dapat ditemukan sebagai bagian dari proses adaptasi yang berfungsi untuk menciptakan jaringan saling membantu yang lebih luas.

 


Sumber:
Diterjemahkan secara bebas untuk kepentingan penyebarluasan pengetahuan umum dari tulisan asli berjudul Does Scarcity Lead to Selfishness?.
Penulis asli adalah Cathryn Townsend, Athena Aktipis dan Lee Cronk yang telah mempublikasikan tulisan tersebut dalam Anthropology News website, pada tanggal 23 Juni 2021.
Ilustrasi foto:
Cathryn Townsend dalam anthropology-news[dot]org

 

 

Share :


Post Comment