Lingkar Berita Pendidikan Indonesia

Akhirnya, Indonesia Bisa Kalahkan China

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya tim bulu tangkis Indonesia berhasil mengalahkan China sambil membawa piala Thomas ke pangkuan ibu pertiwi. 

Kali terakhir menjuarai Thomas Cup terjadi pada tahun 2002, dan setelah 19 tahun kemudian, Indonesia baru mampu membawa pulang piala tersebut. Perlu diketahui, bahwa Thomas Cup pertama kali digagas oleh Sir George Alan Thomas sebagai salah seorang pemain bulu tangkis kenamaan di era tahun 1900-an. 

Kejuaraan yang terinspirasi oleh keberadaan Davis Cup ini, pertama kali digelar pada tahun 1948 untuk Thomas Cup dan tahun 1956 untuk kejuaraan Uber Cup. Sejak tahun 1984, antara Thomas Cup dan Uber Cup digelar secara bersamaan. Sejak terakhir kali mengangkat tropi pada tahun 2002, Indonesia pernah tampil di dua laga final. Yakni pada final tahun 2010 dan 2016, namun keduanya berujung pada kegagalan.

"Dahaga 19 tahun akhirnya terhapus juga," demikian ujar Erick Thohir, MBA., menteri BUMN RI, pada akun IG pribadinya. 

Tim Indonesia, Dinilai Lebih Sempurna

Seperti halnya diberitakan dalam situs BWF Thomas Uber Cups, tim Thomas Cup Indonesia dinilai hampir sempurna, saat kemarin menaklukkan tim bulu tangkis China. Di atas kertas, kekuatan tim pria Indonesia memang berada di atas China. Namun, selama ini China dikenal konsisten dalam meraih banyak prestasi di ajang bulu tangkis internasional.

Pada tunggal putera, Anthony Ginting yang kini berada di peringkat ke-7 dunia memang hanya perlu waktu sekitar 77 menit untuk bisa menghempaskan tunggal asal China, Lu Guang Zu. Demikian pula, pasangan ganda Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto, memang memiliki peringkat dunia di atas He Ji Ting.

Namun naiknya Alfian dan Ardianto sebagai ganda pertama, cukup menarik perhatian. Mengingat di atasnya, masih ada pasangan Gideon dan Sukamuljo yang menduduki peringkat pertama dunia. Demikian pula masih ada pasangan Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan, yang kini masih berada di peringkat kedua terbaik dunia.

Kemenangan Alfian dan Ardianto pun, lantas membuat pasangan Daniel Marthin dan Kevin Sanjaya, tak perlu turun ke lapangan. Hal ini setelah Jonatan Christie, pada akhirnya juga berhasil menumbangkan Li Shi Feng.

Memang dalam peta kekuatan dunia, China sedang mengalami krisis pada nomor tunggal pria. Beberapa pemain senior seperti Lin Dan, terus menurun. Praktis hanya ada Chen Long yang mewakili China untuk berada di papan atas tunggal putera dunia. 

Dalam percaturan tunggal putera dunia, kini masih dikuasai oleh Kento Momota dan pebulu tangkis asal Denmark, yakni Viktor Axelsen dan Anders Antonsen. Sementara Ginting, sebagai pebulu tangkis putera terbaik Indonesia, kini masih berada di peringkat ke-5 dunia.

Keberhasilan Thomas Cup adalah Kerja Keras Seluruh Anggota Tim

Namun sebuah keberhasilan, memang harus diperoleh dari kerja keras. Hal ini dibuktikan oleh Jonatan Christie yang sebelumnya berhasil menumbangkan Anders Antonsesn asal Denmark, yang memiliki peringkat dunia lebih baik darinya. Melalui perjuangan melelahkan selama 100 menit, pada akhirnya itu bisa dijadikan modal untuk menundukkan Li Shi Feng di partai final. Meski sebelumnya sempat memberikan perlawanan ketat sampai dengan pertengahan set ketiga, namun Jonatan Christie mampu melakukan presisi dan kontrol yang bagus untuk kemudian berhasil melemahkan perlawanan Li Shi Feng. 

Dikatakan oleh Jonatan Chritie, bahwa pada pertandingan final, dirinya menyatakan siap untuk bertanding 120 menit. Itu jika lawannya, menuntut untuk bertanding lebih alot dari partai semifinal sebelumnya. “Game ketiga saya bilang, ayo kita main 100 menit lagi,” demikian tutur Jonatan Christie. Menurutnya, pertandingan pada partai final kemarin, telah memberikan rasa percaya diri. Itu adalah pencapaian terbesar dirinya, yang dianggap lebih besar dari perolehan emas Asian Games sebelumnya.

"Bulu tangkis Indonesia, sekali lagi memberikan bukti bahwa kita sebagai negara dan bangsa yang besar, akan bisa bersaing di pentas dunia dalam segala bidang, terutama di bidang ekonomi," demikian imbuh Erick Thohir. Menurutnya, tim manajer dan para pelatih, juga memiliki peran penting bagi keberhasil tim Thomas Indonesia. Strategi dan kekompakan yang dibangun, patut untuk diapresiasi. Selain itu, kerja keras untuk mempersiapkan tim yang diperkuat oleh talenta-talenta muda, diharapkan akan dapat membangun bulu tangkis untuk selalu menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

 

 

Sumber:
BWF Thomas Uber Cups
Akun IG Erick Thohir
Ilustrasi foto:
BWF Thomas Uber Cups 

 

 

Share :


Post Comment