Lingkar Berita Pendidikan Indonesia

Dasar Peringatan Hari Ibu di Indonesia, Berbeda dengan Negara Lain

Sejak 1959, bangsa Indonesia menggelar peringatan Hari Ibu pada setiap tanggal 22 Desember. Dewasa ini, ada banyak cara untuk memperingati hari ibu. Terlebih pada masa pandemi seperti sekarang ini, dimana banyak pihak yang menjalani metode kerja work from home.  

Sejak pagi menyapa pada hari Selasa (22/12) kemarin, aneka notifikasi berbunyi hampir pada setiap ruang media sosial. "Meski umurmu tak lagi muda, namun kau tak pernah lelah menyayangiku. Love U Mom," demikian salah satu ucapan yang merebak di medsos pada peringatan hari ibu tahun ini.

Sejarah Peringatan Hari Ibu

Namun, mengapa Hari Ibu itu diperingati? Peristiwa apa yang telah dijadikan acuan? Merujuk pada portal informasi Indonesia, hari ibu yang diperingati di Indonesia ternyata berbeda dengan Mothers Day yang diperingati di benua Eropa atau di negara Amerika Serikat.

Berdasarkan tradisi Yunani dan Romawi kuno, seperti halnya dijelaskan oleh History, bahwa motherhood merupakan ritual penghormatan terhadap Dewi Rhea dan Cybele. Sementara untuk tradisi Eropa, pada mulanya perayaan Hari Ibu diambil dari pagelaran festival oleh pemeluk Kristen yang dikenal sebagai Mothering Sunday. Hal ini kemudian berkembang luas di United Kingdom, sehingga peringatannya jatuh pada hari Minggu keempat. Itu adalah saat untuk memberikan layanan ke gereja yang disebut Mother Church, sebagai wujud peningkatan keimanan warga Kristiani. Biasanya mereka berbondong-bondong menuju gereja terbesar dan yang terdekat dengan tempat dimana mereka tinggal. 

Namun seiring perjalanan waktu, tradisi Mothering Sunday diungkapkan sebagai hari libur nasional untuk para ibu, dan kemudian anak-anaknya memberi ibu mereka bunga atau bentuk penghargaan yang lain. Sementara di Amerika Serikat, pada mulanya Hari Ibu diperingati pada hari Minggu pada tanggal 9 Mei. Hal ini berawal dari Ann Reeves Jarvis yang mengajari para ibu untuk merawat anak-anak mereka dengan benar di sebuah klub bernama Mothers Day Work Clubs.

Pada tahun 1868 Jarvis menyelenggarakan Mothers Friendship Day. Kala itu, para ibu diajak berkumpul untuk mempromosikan rekonsiliasi bagi kedua kubu tentara yang terlibat perang saudara. Pada tahun 1879 Julia Ward Howe juga mempelopori adanya Mothers Day Proclamation, yang bertujuan menghimbau para ibu untuk bersatu dalam mempromosikan perdamaian dunia.

Setelah kematian ibunya pada tahun 1905, Anna Jarvis selaku putri dari Ann Reeves Jarvis berjuang hingga mendapatkan dukungan pendanaan dari pengusaha bernama John Wanamaker. Pada bulan Mei 1908, Anna Jarvis berhasil menyelenggarakan perayaan resmi Hari Ibu di sebuah gereja di Grafton, West Virginia, USA. Pada tahun 1914, presiden USA kala itu, Woodrow Wilson, kemudian berkenan meresmikan penetapan hari Minggu kedua di bulan Mei, sebagai Hari Ibu.

Peringatan Hari Ibu di Indonesia

Bagaimana dengan peringatan hari ibu di Indonesia? Penetapan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember, dilakukan oleh Presiden Soekarno sejak tanggal 16 Desember 1959. Presiden Soekarno merujuk pada pelaksanaan Kongres Perempuan pertama yang dimulai pada tanggal 22 Desember 1928. Berlangsung selama empat hari, kongres itu diikuti oleh 600 perwakilan organisasi wanita di seluruh Indonesia.

Kongres perempuan merupakan salah satu peristiwa kebangsaan penting bagi bangsa Indonesia, selain pelaksanaan Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 yang kemudian diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda. Seakan tak mau ketinggalan, kongres perempuan juga menghasilkan produk perjuangan berupa mosi kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda.

"Sudah menjadi keyakinan kita bahwa laki-laki dan perempuan mesti berjalan bersama-sama dalam kehidupan umum... Namun dengan begitu, tidak lantas harus membikin perempuan menjadi laki-laki,” demikian ujar Siti Aminah, selaku pemimpin kongres, yang juga isteri dari Boedi Oetomo. 

Dalam menyelenggarakan kongres, Ny. Siti Aminah dibantu oleh Nyi Hadjar Dewantara, dan Nona Sujatien Kartowijoyono. Mosi yang dilahirkan melalui kongres perempuan adalah usulan penambahan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan, kewajiban adanya pemberian keterangan tentang taklik (janji dan syarat-syarat perceraian) pada setiap pernikahan, serta adanya aturan tentang sokongan untuk janda-janda dan anak-anak piatu dari pegawai negeri. 

 

Sumber:
history[dot]com
indonesia[dot]go[dot]id
Ilustrasi Foto:
Svenson dalam akun iKlicK pixabay[dot]com

 

Share :


Post Comment