Lingkar Berita Pendidikan Indonesia

Gunung Es Mencair, Lahan Pertanian Terancam Kering

Sumber air tidak hanya ada di puncak gunung. Namun juga berasal dari lelehan salju dari pegunungan tinggi yang berselimut salju. Limpahan air yang meleleh, kemudian mengalir hingga turun ke samudera. Hingga saat ini, diketahui bahwa seperempat dunia bergantung pada menara air alami tersebut. 

Menara air dari puncak itu, diharapkan akan dapat terus mengisi waduk, air tanah, irigasi pertanian, hingga pasokan air bagi penduduk kota. Bahkan juga bagi ekosistem yang selama ini menunggu di kaki-kakinya. 

Namun satu hal mengkhawatirkan terjadi, manakala tim peneliti yang dipimpin oleh Rhoades, baru-baru ini menemukan adanya pemanasan global yang mencapai hingga 2,5 derajad Celcius. Hal ini melebihi kondisi saat era pra-industri. Penelitian di pegunungan Andes, Chili, memperkirakan hilangnya salju di sana pada tahun 2046 nanti.

Kondisi ini bergerak 20 tahun lebih cepat, dari prediksi sebelumnya. Para peneliti juga memprediksi, kondisi tanpa salju ini juga akan mendera di lintang Selatan.

"Temuan ini cukup mengejutkan. Kami berasumsi bahwa kedua wilayah di belahan bumi Selatan dan Utara akan merespons perubahan iklim dengan cara yang sama, dan bahwa Andes ini akan lebih tangguh. Mengingat puncaknya yang cukup tinggi," demikian ujar Alan Rhoades, peneliti dari Berkeley Lab's Earth and Environmental Sciences Area. 

Lahan Pertanian Terancam Mengering

Kurangnya limpahan air dari puncak gunung bersalju, dikabarkan akan berpotensi merusak lahan pertanian. Kekeringan yang menimpanya saat ini, akan menjadi bertambah parah. 

Di California contohnya, saat ini kekeringan di sana sudah memasuki tahun keempat. Lebih dari 94 persen negara bagian di USA tengah mengalami kekeringan yang ekstrem. Menyusutnya pasokan air dari puncak gunung salju ke bawah, telah berimbas pada lembah San Joaquin.

Sementara itu, diketahui bahwa Chile sebelumnya telah mengekspor sekitar 30 persen produksi buah segarnya ke luar negeri. Sebagian besar di antaranya, dikirim ke USA. Jika terus dibiarkan, ini merupakan kekeringan terparah selama 13 tahun terakhir.

Membatasi Emisi Rumah Kaca

Hal yang perlu dilakukan, adalah menjaga kondisi salju di pegunungan, agar terus dapat tersimpan dengan baik. Selain itu, penggunaan emisi gas rumah kaca, harus terus dikurangi.

Berkurangnya salju dan kondisi kekeringan pada dewasa ini menunjukkan adanya kerentanan pasokan air. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan regulasi terkait pengelolaan air tanah dan strategi baru terhadap pengelolaan air bagi pertanian. 

Dalam hal ini, para ilmuwan diharapkan dapat menghasilkan strategi proaktif dalam mengelola sumber daya air. Namun demikian, menurut Rhoades, strategi yang lebih baik adalah mencegah pemanasan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca.

 


Sumber:
Limiting global warming now can preserve valuable freshwater resource, dalam Science Daily, 2022.
Ilustrasi foto:
Audley travel

Share :


Post Comment