Lingkar Berita Pendidikan Indonesia

Tolak Balak, Ikhtiar Religio Magis Menghadapi Bala Bancana

Drs. Mudzakir Dwi Cahyono, M.Hum || Arkeolog dan dosen pada Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang

Pembacaan kidung, oleh sebagian masyarakat diyakini dapat menolak segala hal negatif atau kehadiran mara bahaya lainnya. Hal ini ternyata juga masih dipercaya, sehingga digunakan sebagai antisipasi untuk menangkal merebaknya virus Corona di tanah air. Pembacaan Kidung Warawedha karya Sunan Kalijaga, hingga kini masih kerap digelar di beberapa tempat di Indonesia.

1. Singgah-singgah kala singgah,
pan suminggah kala-durga sumingkir,
singa ama singa wulu,
singa suku singa sirah,
singa tenggak klawan kala singa buntut,
pada sira sumingkira,
muliha asal-ireki.

2. s.d. 12 .........................
(Kidung "Warawedha", Karya: Sunan Kalijaga)

Istilah Jawa Kuna untuk Wabah Penyakit

Kata "sakit" telah kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna maupun Jawa Tengahan, dalam arti kurang lebih sama dengan artinya sekarang, yaitu: sakit, khususnya sakit fisik. Kata jadiannya adalah "asakit" (sakit, terluka), manakit (menyebabkan saki), anakiti dan sinakitan (menyakiti, melukai), kasakitan (men- derita kesakitan), "panakit" (penyakit), atau "pisakit" (pemberian sakit) (Zoetmulder, 1995: 984- 985). Selain itu terdapat kata "gring" atau "gering", yang berarti: sakit, penderitaan. Kata jadiannya adalah "gegering" (penyakit), agring (sakit), agringi (membuat sakit, menjadi sakit), gringan (sakit-sakitan), dan pagring (Zoetmulder, 1995: 310). Ada pula kata "lara", dalam arti: perasaan sakit, baik rokhani atau jasmani (Zoetmulder, 1995 : 537).

Ketiga istilah di atas tidak menunjuk pada keadaan sakit dalam jumlah yang banyak dan terjadi di suatu daerah atau di suatu lapisan masyarakat, yang alam istilah medis modern disebut "endemi", atau bahkan yang terjadi serempak dan meliputi geografis yang luas, yang dalam istilah mediasi modern disebut "pandemi". Ternyata, di dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan telah terdapat sebutan untuk itu, yaitu "marana", kata serapan bahasa Sanskerta, yang berarti: meninggal, pembunuhan, kematian, penyakit yang mematikan, wabah, sampar, pes, dsb. Adapun kata jadian "kemarahan", secara lebih khusus menunjuk kepada: dilanda wabah, pandem (Zoetmulder, 1995:aq 654). Istilah ini antara lain disebut dalam kitab Adiparwa (185), Udyogaparwa (84), Agastya Purana (358), Ramayana (24.11), Bhomakawya (2.24, 76. 20), Kidung Harsyawijaya (1.4, 6.111), Tantri Kediri (4.273), dan secara terang tergambar dalam kitab prosa Calon Arang (122) dengan kalimat "de bilang awang makweh paratra pamaranan", yakni orang senegara meninggal karena wabah penyakit. Kata "paratra" yang disebut berturut dengan kata "pamaranan" menunjuk: kematian, ajal, maut, mininggal (Zoetmulder, 1995: 773) karena wabah itu.

Berikut gambaran kematian masal lantaran wabah penyakit (paratra pamaranan) yang terjadi pada Nagari Dhaha di era pemerintahan raja Airlangga (1019-1049 Masehi) yang terkuat di dalam kitab gancaran (prosa) Calon Arang naskah LOr 5387/ 5279 lempir 11b, dengan kutipan teks sbb.

" ..... Seluruh kerajaan terserang penyakit,
sakit semalam dua malam, tidak lain
panas-dungin sakitnya. Orang meninggal,
bergantian menguburkan (orang mati).
Esok pergi menguburkan temannya, sore
hari ia dikuburkan. Mayat bertumpuk-
tumpuk tindih-menindih di kuburan. Tidak
ada selanya di kuburan debgan batas
lubang pembuangan air, karena banyaknya
mayat itu. Yang lain di ladang ataupun di
jalan, ada pula membusuk di rumahnya.
Anjing melolong makan mayat.. Burung
gagak terbang berkeliaran, ikut bersama-
sama mematuk-matuk bangkai. Lalat
berdengung bergemuruh dalam rumah.
Banyak tempat tinggal yang kosong. Ada
juga orang yang pergi jauh, mencari
tempat tinggal yang bebas penyakit
Tujuannya mengungsi agar tetap hidup.
Yang sedang sakit dipikulnya. Ada yang
mengemban anak dan yang dituntunnya...."
(Suastika, 1999: 99-100)..

Wabah penyakit yang terjadi karena "teluh" yang dilancarkan oleh janda (rangda) di Girah bernama Calon Arang itu mengingatkan pada kondisi miris ketika terjadi "pagebluk" (varian sebutan "bagebluk atau begebluk"), yang diilustrasikan dakam bahasa Jawa Baru dengan kalimat "esuk lara sore mati, sore lara esok mati". Suatu kondisi berupa mala petaka (mala = penyakit, yakni petaka lantaran penyakit). Peristiwa yang demikian masuk ke dalam kategori "bancans" (kini disebut dengan "bencana"), namun terjadi bukan karena peristiwa fisis-alamiah (bencana alam), melainkan oleh faktor penyakit (bala), sehingga disebut "bala bancana". Kurang dapat dipastikan adalah apakah peristiwa yang digambarkan itu adalah kejadian mistis lantaran teluh dari Calon Arang? ataukah suatu gambaran simbolik atas peristiwa wabah penyakit (pandemi) yang pernah melanda ibu kota (kadatwan) kerajaan Mataram pada paro pertama abad XI Masehi? Jika riil adanya, inilah gambaran dendemi pada masa Hindu-Buddha, namun sayang sekali tidak didapati info tetang jenis penyakit apa yang mewabah itu.

Melawan Mala, Menolak Bala

Sebuah kata yang pada kali ini tengah viral disebut adalah "melawan" pada konteks "melawan Corona". Kata jadian "melawan", yang berkata dasar "lawan", mengandung arti : musuh, seteru, menentang, atau yang bertentangan. Adapun kata jadian "melawan" berarti (1) menghadapi (berlereng, bergulat, dsb.), (2) menantang, (3) mencegah, menghilangkan, menjauhkan, dsb. (KBBI, 2002:645). Sebutan "melawan Corona" mengandung maksud upaya mencegah atau mengilangkan, paling tidak menjauhkan dari dari lawan. Yang menjadi lawan pada konteks sebutan ini adalah virus ganas yang bernama bagus "Corona", namun menjadi penyebab petaka dunia dalam bentuk "wabah penyakit" alias "mala petaka" -- suatu petaka berwujud mala (penyakit).

Sebagai "mala", virus Corona musti dilawan. Mau tidak mau, kita "ditantang" untuk mampu hadapi ataupun melawan virus Corona. Maka, apa boleh buat, "tantangan diterima". Untuk itulah, beragam upaya dikerahkan, baik upaya medis ataupun upaya non-medis. Yang terpenting adalah lawan bisa ditundukkan, yang utama mala dari si Corona harus diusir pergi dan kembali baik (hayu, atau rahayu) sebagaimana sediakala, Mala musti disudahi, seperti yang dijalankan oleh Sahadewa -- varian sebutan untuk "Sadewa", yakni "si bungsu" di keluarga Pandawa -- untuk mengakhiri mala yang kala itu menimpai diri Dewi Uma (Parwati) dengan jalan "me-ruwat-nya". Demikianlah kisah pada "Kidung Sudhamala" tentang upaya Sadewa mengakhiri mala yang berupa kutuk (sapata) yang mengubah wujud ahayu (cantik) Dewi Uma menjadi raksasa Ra Nini dan diturunkan dari Kaindran ke Ksetra Gandanayu di dunia. Atas keberhasilannya itulah, maka Sadewa mendapat anugerah sebutan "Sudhsnsla", dalam arti : penyudah (pengakhir, peniada) mala.

Petaka yang berupa wabah penyakit (mala petaka), yang juga disebut dengan "pagebluk" itu difahami sebagai "bala" (varian sebutannya "balak"). Ada pendapat menyatakan bahwa pagebuk merupakan "balake jaman". Dalam bahasa Indonesia, kata "bala" dapat berarti : mala petaka, kemalangan atau cobaan (KBBI, 2002:95). Penggunaannya kata ini misalnya: (a) kena/mendapat bala, (b) menolak bala, (c) bala bencana (mala petaka, kesengsara- an). Di dalam bahasa Jawa, perkataan "menolak bala" diistilahi dengan "tolak balak" (bahasa Inggris: reject reinforcements), yang berarti ikhtiar untuk menangkal bencana (bahaya, penyakit, dsb.) dengan mantra (kenduri, dsb.). Dalam konteks itu kata kerja "menolak" menunjuk pada : upaya untuk mencegah (bahaya dan sebagainya), menangkal (penyakit dan sebagainya), atau menangkis (serangan dan sebagainya), dan bisa juga berarti : menampik. Ada pepatah yang menggunakan kata "bala", yaitu "bala lalu dibawa singgah", terkandung maksud: sengaja mencari kesusahan (kecelakaan).

Istilah "bala" adalah kata serapan dari bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, yaitu "bala" (varian sebutannya "wala"), yang antara lain berarti, kekuasaan, kekuatan, kuasa, kuat, dsb. (Zoetmulder, 1995: 99), yang dalam konteks kebencanaaan, mala petaka, atau cobaan menunjuk kepada : kekuatan jahat, kekuatan yang merusak (destruktif), bahkan kekuatan yang mematikan. Kata ulang "bala-bala" atau "wawala" dalam arti: tanda (untuk menolak, mencegah, peringatan, larangan (Zoetmulder, 1995: 1372). Kata "wala" berkenaan dengan "kematian" mempunyai arti : burung gagak (Zoetmulder, 1995: 1372), sebagai burung pemakan bangkai. Terdapat istilah lain yang dekat dengan "bala" (wala), yaitu "walat", berarti: pemakaian kekuatan, kekerasan, menggunakan kekuasaan, keras (Zoetmulder, 1995: 1374). Dalam konteks bencana atau petaka karena penyakit, perkataan "kenek walat" (terkena walat) yang berarti: terkena atau terserang penyakit.

Ikhtiar Religio-Magis Menolak Bala

Bala (balak) diibaratkan sebagai "sesuatu yang datang", dan karenanya perlu disikapi oleh pihak yang didatanginya. Ada beberapa kemungkinan sikap terhadap sesuatu yang datang, yaitu: (a) menerima, (b) menolak, atau (c) diterima dengan prasyarat tertentu. Dalam hal "bala" (balak), yang diartikan sebagai: mala petaka, kemalangan, ataupun cobaan, sikap terhadapnya adalah "menolak" (tolak), sehingga muncul sebutan "tolak balak". Bala yang datang, yang berupa virus Corona, oleh karenanya musti "ditolak". Perkataan yang kini marak dipakai, yakni "Bersama Melawan Corona", pada dasarnya adalah "tolak balak", yakni: upaya untuk mencegah, menangkal, menangkis, atau menampik kekuatan jahat yang berenama "Corona".

Pada masyarakat Nusantara, khususnya di Jawa dan Bali, tolak balak merupakan ritus keagamaan, yang diselenggarakan dengan menggunakan: (a) doa-mantra, (b) sesajian (offering), (c) pengorbanan (sacrafice), dan (d) benda atau simbol magi. Dalam hal magi tersebut, magi yang digunakan adalah magi kategori "magi penolak atau magi pelindung (protective magic)". Balak adalah "kekuatan destruktif" yang karenanya dihadapi dengan "magi protektif". Tergambar pada "ritus tolak balak" itu adalah bahwa ikhtiar yang dipakai adalah "upaya religis" -- bukan upaya medis. Virus Corona dalam konsepsi ini dipersepsi sebagai "kekuatan jahat" yang terhadapnya manusia musti "melindungi diri" dan berbuat untuk "menolak" kehadirannya. Doa-mantra, sesajian, maupun benda dan simbol magi itu diyakini sebagai "kekuatan yang lebih besar" untuk dapat mengalahkan, menyirnakan, atau paling tidak menghalau pergi kekuatan jahat yang destruktif tersebut.

Acapkali ikhtiar religio-magis yang digunakan berupa apa yang diistilahkan dengan "ruwat", yang intinya untuk "membersihkan" hal yang "mengotori". Ruwat dilakukan untuk maksud membersihkan (baca "menghilangkan") hal-hal yang mengotori. Kata Jawa baru "suker" yang acap diartikan sebagai: kotor, ternyata telah kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan dalam arti: terhalang, sedang susah, terhambat, dalam kesulitan, merasa gelisah (Zoetmulder, 1995: 1137). Ruwatan dalam tradisi Jawa maupun Bali dilakukan terhadap orang yang berada dalam kondisi suker (wong sukerta), dengan pengharapan dapat membebaskannya dari kondisi yang merintangi, faktor yang menghalangi untuk berkehidupan wajar, dan penyebab kesukaran. Faktor yang menjadi penyebab itu diistilahi dengan "anukeri, anuker- snukeri, kasukeran". Ikhtiar untuk meniadakan kondisi suker acap pula disebut "murwakala". Kata "murwa" Merupakan kata jadian yang berkata dasar "purwa", dalam arti: permulaan, sesuatu yang sebelumnya (lebih dahulu), pada masa lalu, yang ada sebelumnya (pertama), pertama- tana, dsb. (Zoetmulder, 1995: 888). Dengan demikian, "maks mrwakala" adalah ikhtiar untuk mengembalikan ke waktu (kala) permulaan, ketika masih dalam kondisi baik (hayu).

Secara harafiah, kata "ruwat" mengandung arti: dibuat tidak berdaya, hancur, binasa (terhadap kejahatan, kutuk, pengaruh jahat, dll.). Kata jadian "angruwat, rumuwat, atau rinuwat" menunjuk pada upaya yang dapat menyebabkan kejahatan, kutuk, pengaruh jahat, dsb. itu menjadi tidak berdaya, hancur, atau bebas. Olek karena itu, ruwat dilakukan juga untuk bebaskan diri dari roh jahat (Zoetmulder, 1995: 967). Untuk kepentingan itu, ruwatan musti dilakukan oleh seseorang yang punya kemampuan khusus dan dengan menggunakan sarana khusus, seperti mantra dan obo rampe tertentu. Dalam "Kidung Sudhamala", orang yang digambarkan memiliki kemampuan khusus adalah Semar dan Sadewa. Ketika Sadewa hendak dikorbankan untuk meruwat Ra Nini dengan tangan terikat di pohon randu alas. Semar yang berada pada posisi di belakang Sadewa, melaksanakan ikhtiar sbb.

Di ambillah beras kuning dan bunga tabur,
di genggamnya, dan merenung bersamadi,
bunga tabur telah di dalam tangan, Semar
membunyikan klintingan upacara .............
Hyang Dewi ditentramkan. Hyang Ayu
mendengar mantra "Hung-kara", yang di-
lantunkan oleh Sadewa dengan merdunya.
Ia ditaburi beras kuning dan bunga tabur.
Ra Nini menjerit, seketika itu terlepaslah
wujud Durganya, kembali berupa Hyang
Ayu, cantik jelita. ...........

(Padmapuspita,1977: 83).

 

Kisah "Sudhamala" Itu dijadikan cerita khusus pada Wayang Sapuh Leger di Bali. Wayang ini dimainkan khusus oleh Mangku Dalang (Mpu Dalang) dalam Ritus Ruwat. Hal ini mengingatkan kita pada Ruwatan di Jawa, yang memainkan cerita "Bethoro Kolo" (acap pula disebut lakon "Murwakala"). Dalam konteks "mala petaka" (petaka karena mala = penyakit), pada ritus ruwat untuk Malapetaka, yang dibuat tidak berdaya atau yang dihancurkan, atau yang dibebaskan adalah penyakit, yakni kekuatan jahat yang membuat orang menjadi sakit, bahkan bisa meninggal. Virus Corona mustilah "diruwat", dalam arti disirnakan di kehidupan manusia, baik manusia sebagai perorangan atau sekelompok orang (warga masyarakat). Bila ruwat dianalogikan dengan upaya medis, penanganan terhadap Corona dilakukan dengan jalan mencegah terjadinya penularan dan dengan tingkatkan ketahanan tubuh, mengingat bahwa sejauh ini belum ditemukan "vaksin" yang tepat untuknya.

Kombinasi Ikhtiar Medis dan Religio-Magis

"Banyak jalan menuju Roma", ada ragam strategi, pendekatan, metode, teknik, dan bentuk kegiatan untuk mencapai maksud. Hal penganan terhadap pandemi Corona tentulah ada beragam cara, baik cara medis ataupun cara non-medis. Sebagai penyakit, Covid-19 tepat ditangani secara medis. Sebagai suatu mala petaka, keberhasilannya diyakini bukan semata-mata karena cara medis, ada "uluran tangan Illahi", yang menjadi faktor penentu. Oleh karena itu, cara non-medis pun mustilah diikhtiarkan. Terlebih bagi warga masyarakat yang "religiusitasnya terbilang tinggi", upaya religis ataupun religio-magis dengan simultan dilakukan bersama dengan upaya medis. Dua rekadaya dalam satu maksud (2in1) "loro ing atunggal rekodoyo", yakni melawan Corona.

Sesuai dengan keyakinannya, masing-masing dari penganut agama melakukan cara religisnya sendiri untuk menangani mala petaka yang pada kali ini bernama "Covid-19". Tak perlu jumawa dengan menyombongkan diri bahwa caranya lebih mujarab daripada cara yang lain. Tidak bijak merendahkan cara lain sebagai ikhtiar kuno, tidak modern, dan karena ketinggalan jaman. Demikian pula, tak perlu keburu menyatakan bahwa caranya merupakan "cara (jalan) yang salah", karena siapa tahu dalam jalannya itu ada kemujaraban. Menjaga jarak fisik (physical distancing), rajin cuci tangan, memperkuat daya tahan tubuh, tanggap bila ada gejala dalam dirinya, atau pada diri orang lain didapati tanda-tanda awal terinfeksi virus Corona, dsb. adalah ikhtiar medis yang musti dilakukan oleh setiap orang. Demikian pula, sebagai seorang penganut agama atau keyakinan tertentu, ikhtiar religis musti pula dilakukan untuk melengkapi ikhtiar medisnya.

Demikian tulisan ringkas ini. Tulisan ini tidak merinci ragam bentuk dan cara untuk tolak bala. Kendatipun demikian, tergambar bahwa pada masing masa, serta di tiap-tiap daerah memformulasikan "daya-upaya" (reko-doyo) untuk menghadapi serta mengatasi petaka karena penyakit (mala petaka). Tolak balak sebagai "ritus" adalah salah satu cara, yakni cara lama yang telah mentradisi, selain cara medis modern. Ada yang membaca doa, mantra, kidung tolak balak seperti "Kidung Warawedha" karya Sunan Kalijaga ataupun "Kidung Rumekso ing Wengi", selamatan dengan uborampe "tumpeng pras", pasang medis tolak balak berupa biji-biji brambang yang disunduk dengan mahkota lombok abang, korban binatang, maupun ikhtiar "ruwat" yang lainnya. Negara maju seperti Turki saja, ternyata juga menyelenggarakan korban binatang (animal sacrifice) sebagai "upaya religis" untuk "mematikan" secara simbolik virus Corona. Tentulah masih terdapat beragam cara lainnya untuk maksud yang sama.

Apabila tulisan ini diawal dengan kutipan "Kidung Waraweddha", maka di akhir tulisan dicantumkan kutipan dari Bhagavatgita yang berkenaan dengan Ongkara, yang juga berkenaan dengan doa-mantra untuk "tolak balak". Demikian sebagian kutipannya.

Rosa ham apsu kaunteya
Prabha  smi sasisuryayoh
Pranawah sarwawedesu
Sadah khe paurusam nrisu

(Bhagawad Gita.VII. 8)

Terjemahan:
Aku adalah rasa dalam air, o Arjuna
Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari
Aku adalah pranawa dalam semua Wedha
Aku adalah suara di ether dan kemanusiaan
pada manusia (Maswinara, 1997: 267)

Om ity ekaksarambrahma
wyharan mam anusmaran
yah prayati tyajam deham
sa yati paramam gatim

(Bhagawad Gita VIII. 13)

Terjemahan:
Ia yang mengucapkan Om, aksara tunggal yaitu Brahman, 
dan mengingatkan Aku sewaktu ajal akan meninggalkan badan jasmani, 
ia akan pergi menuju tempat yang tertinggi ( Maswinara, 1997: 290).

 

Semoga ikhtiar-ikhtiar tersebut bakal membuahkan keberhasilan. Berharap badai Corona cepat berlalu, keteraturan (rta) kosmos -- baik jagad gede (macro- cosmos) ataupun jagad cilik (micro- cosmos) akan kembali terpulihkan, dan pada akhirnya karahayon hadir seperti sediakala, "papa kabhuktiha". Amin. Nuwun.

 

Share :



Post Comment